Gadis Asal Pecangaan Meraih Undian Toyota Innova Pada Ajang Smartfren WOW

Adalah Siti Saidah, pelanggan Smartfren asal Pecangaan, Jepara, yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk memiliki mobil Kijang Innova setelah menjadi salah satu dari empat orang pemenang program Smartfren WOW tahap kedua. Kabar membahagiakan tersebut diumumkan oleh Smartfren pada Gelaran WOW Fest yang diselenggarakan Smartfren untuk para generasi milenial menghabiskan akhir pekan. Di event yang berlangsung di Ecovention Ancol, Jakarta Utara. pada Minggu (10/11/2019).

Pemenang program undian Smartfren WOW tahap kedua berhasil mewujudkan mimpi pelanggannya untuk memiliki rumah, mobil, dan juga sepeda motor. Miftahul Jannah pelanggan Smartfren asal Singosari, Malang, Jawa Timur berhasil mewujudkan mimpinya untuk memiliki rumah di Sinarmas Land. Miftahul merupakan seorang ibu rumah tangga berusia 48 tahun dengan dua orang anak. Saat ini ia masih menumpang tinggal di rumah orang tuanya, suami Miftahul merupakan seorang buruh bangunan lepasan.

Miftahul sendiri sudah menjadi pelanggan Smartfren sejak tahun 2016, dan biasanya berlangganan paket Smartfren 10 GB. ”Saya pake Smartfren udah lama, sinyalnya bagus di sini. Undian ini saya iseng ajaikutan sambil berharap menang, karena dah lama tinggal bareng orang tua. Pengen punya rumah sendiri mimpi saya mah.” TambahMiftahul.

Kebahagiaan itu juga dirasakan oleh dan tiga orang pelanggan Smartfren yang berhasil mewujudkan mimpi mendapatkan Vespa masing-masing Hendri Ferdi asal Yogyakarta, Yuningsih asal Bogor, dan Putri asal Medan.

Selain kelima pemenang diatas, Smartfren juga mengumumkan pemenang ratusan hadiah lainnya, mulai dari iPhone, handphone Samsung, paket liburan ke Bali, speaker Bluetooth, voucher belanja, dan juga voucher pulsa. Ke semua pemenang dapat dilihat di website www.smartfren.com/wow.

“Kami mengucapkan selamat kepada mereka yang berhasil mewujudkan mimpinya, untuk memiliki rumah, mobil, vespa, dan juga yang mendapatkan ratusan hadiah lainnya dari kami. Bagi yang belum dapat, jangan kecewa karena kesempatan masih banyak, cukup pakai Smartfren, aktifkan paket dan raih kesempatan memiliki rumah, mobil, vespa, smartphone, paket liburan, dan ratusan voucher pulsa dan voucher belanja,” ujar Litoco Gunawan, Regional Head Smartfren North Central Java.
Share:

FORMASI CPNS KABUPATEN JEPARA 2019


Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 455 Tahun 2019 tanggal 27 September 2019 tentang Penetapan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Jepara Tahun Anggaran 2019, Pemerintah Kabupaten Jepara memberikan kesempatan kepada Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk mengikuti Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Jepara Tahun Anggaran 2019, dengan ketentuan sebagai berikut:

FORMASI JABATAN YANG DIBUTUHKAN: 
Alokasi formasi sejumlah 381 dengan rincian sebagai berikut: 
  1.  Formasi Khusus Disabilitas : a. Tenaga Guru sejumlah = 8 formasi 
  2.  Formasi Umum : 
  • Tenaga Guru sejumlah = 239 formasi 
  • Tenaga Kesehatan sejumlah = 82 formasi 
  • Tenaga Teknis sejumlah = 52 formasi 
Informasi lebih lanjut terkait rincian formasi jabatan, kualifikasi pendidikan, dan unit kerja penempatan bisa didownload dibawah ini

Share:

Langkah Antisipatif, Penghuni Kos di Jepara Kota Dites Virus HIV Oleh Puskesmas Setempat

Lazimnya tes HIV/AIDS dilakukan atas keinginan orang yang hendak dites. Bahkan hasil tes penyakit yang katanya belum jelas obatnya itu bersifat rahasia, hanya untuk orang yang melakukan tes. Namun, di Jepara, Jawa Tengah tes itu menyasar penghuni indekos di daerah tertentu.

Penghuni indekos di Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Jumat (8/11/2019), menjadi sasaran deteksi dini atau screening terhadap infeksi virus HIV/AIDS yang merusak sistem kekebalan tubuh. Tes itu diselenggarakan oleh Puskesmas Jepara.

Dalam melakukan screening tersebut, tim medis dari Puskesmas Jepara didampingi Lurah Jobokuto Adi Winarto, Babinsa Koramil 01/Jepara, Bhabinkamtibmas, bidan, serta ketua RT/RW setempat. Menurut tim medis dari Puskesmas Jepara Firoh, pemeriksaan terhadap penghuni indekos di Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara Kota merupakan bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi warga peduli AIDS (WPA) serta pelayanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) mobile.

Tercatat ada sekitar 50 orang penguni indekos di Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara yang mengikuti pemeriksaan massal itu. Dalam melakukan tes HIV, petugas Puskesmas melakukan pemeriksaan dengan mengambil sampel darah atau urine pasien untuk diteliti di laboratorium serta dilakukan tes antibodi dan tes antigen.

"Tes antibodi ini bertujuan mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi HIV. Meskipun cukup akurat, untuk mengetahui hasilnya butuh waktu tiga hingga 12 pekan agar jumlah antibodi dalam tubuh cukup tinggi untuk terdeteksi saat pemeriksaan," ujarnya.

Sementara itu, tes antigen, kata dia, bertujuan untuk mendeteksi jenis protein yang melekat pada virus HIV (p24). "Tes antigen dapat dilakukan 2-6 pekan setelah pasien terinfeksi," ujarnya.

Babinsa Koramil 01/Jepara Serka Sugiharto mengaku sangat mendukung kegiatan ini karena dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, juga untuk mendeteksi dini warga yang terkena HIV agar tidak menyebar luas. Virus tersebut, lanjut Sugiharto, merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia sehingga penderitanya sangat rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor.

"Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan," imbuhnya.

Untuk itu, dia mengingatkan, masyarakat untuk mewaspadainya dan memahami bahwa penyebaran HIV dan virus-virus sejenisnya melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.

Ia optimistis dengan adanya kegiatan ini sekaligus untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama soal penularannya sehingga menjadi lebih paham dan bisa terhindar dari penyakit mematikan tersebut.

Pada kesempatan tersebut, dia juga mengingatkan masyarakat agar setia terhadap pasangan dan tidak melakukan hubungan terlarang serta berganti-ganti pasangan karena penularan virus pembangkit HIV juga cukup banyak melalui hubungan intim, selain pula melalui transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, dan lain sebagainya.
Share:

Jepara Darurat HIV/AIDS, Peringkat 1 Se Jawa Tengah

Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Jepara setiap tahun kian mengkhawatirkan. Bahkan, berdasar estimasi kumulatif tahun 2018, Kota Ukir menempati peringkat pertama kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Tengah.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara M Fakhrudin mengatakan dari tahun ke tahun, jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Ukir terus meningkat signifikan.

Tahun 2015, tercatat ada 603 kasus. Tahun 2016, jumlahnya bertambah menjadi 721 kasus. Setahun berikutnya, meningkat menjadi 870 kasus dan tahun 2018 melonjak lagi menjadi 1039 kasus.

Angka kasus baru HIV/AIDS di Jepara tiap tahun juga menunjukkan kecenderungan meningkat.

Tahun 2016, tercatat ada 118 kasus baru. Tahun 2017, naik menjadi 149 kasus baru. Lalu 2018, melonjak menjadi 169 kasus baru. Dan hingga Agustus 2019, tercatat sudah ada 96 kasus baru HIV/AIDS.

"Makanya Jepara darurat HIV/AIDS," kata M Fakhrudin yang juga Sekretaris KPA Kabupaten Jepara, Kamis (7/11/2019).

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara, Nur Hidayat mengaku prihatin dengan trend meningkatnya jumlah penderita HIV AIDS di Kota Ukir.

Komisi yang membidangi urusan kesehatan ini mengimbau seluruh stakeholder dan berbagai elemen masyarakat agar bergerak bersama menangani persoalan tersebut.

"Ini merupakan tanggung jawab kita semua. Kejadian darurat HIV ini harus menjadi catatan penting bagi kita untuk segera melakukan pencegahan dan tindakan lain yang konkrit agar penderita HIV/AIDS tidak terus bertambah," tambah Nur Hidayat.

Kasus HIV/AIDS ini, kata Nur Hidayat tak bisa dipandang sepele. Sebab peningkatan angka kasus akan memunculkan berbagai dampak, baik terkait urusan kesehatan maupun sosial.

"Komisi C akan memberikan support secara total dari sisi anggaran dan lainnya. Upaya sosialisasi, pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS harus dilakukan dengan maksimal dan lintas sektoral," tambahnya.
Share:

Postingan Populer

Label

Recent Posts